Permisi…..permisi…..
Hm..sepertimya aku harus melanjutkan perjalanan..karna memang tak ada orang disini…
Permisi…..permisi…..
Hufh..masih sepi juga ternyata..istirahatlah sebentar…
Keadaan tetap sama seperti pertama kali aku datang… Sepertinya tak banyak berubah. Penghuninya telah lama pergi, meja kursi tamu yang dipenuhi debu…pabrik penggilingan disebelah rumah memang mencemari lingkungan. Tempat ini sering kali menjadi pelarian ku ketika sedang jenuh dirumah… Meski tak banyak fasilitas disini. Sepanjang pagi sampai sore..hanya terdengar gemuruh suara mesin penggiling dan diesel penggergajian kayu …”Berisik…” batinku. Tak ada pemandangan yang cukup layak disebut sebagai tempat wisata disini, hanya ketidakbiasaanku kesini yang membuatku…selalu ingin kembali…
Orang yang ditugasi ayah untuk menjaga tempat ini, sudah beberapa bulan yang lalu pergi..mungkin bekerja ditempat lain. Biarlah..toh juga tidak merubah keadaan..
Kring…kring…..
“Halo…halo….”
“Bisa bicara dengan bapak ?”
“Dari siapa ya pak ?”
“Saya teman kerjanya…”
Tak sengaja mendengar pembicaraan beliau lewat telp…
“Nantilah saya sempatkan kesana..”
“Terima kasih”
“Pasti ada yang mau beli? Ya kan?.” Kataku ringan.
“Iya, Pak Budi yang punya pabrik di belakang rumah.” Jawabnya ringan
“Cuma menawar, ayah juga belum mengiyakan…”
“Hm…baguslah…”
“Kenapa? Kamu juga tidak mau hidup disana…tadinya memang buat kamu, siapa tahu mau buka praktik disana..”.. hufh..lagi-lagi ayah menyindirku….
“Nanti lah, siapa tahu aku berubah pikiran..hihihi”.
“Ga semua kok, masih ada beberapa kavling, bisa kamu tempati kapanpun.”
“SIAP” jawabku ringan.
Aku memang menyukainya, tapi…tidak untuk hidup dan beranak pinak disini…Oh GOD..!!
Semenjak kepergian ayah bekerja diluar kota, tempat ini memang jarang aku kunjungi, sesekali aku datang dengan ibu, itupun untuk menyelesaikan beberapa urusan…mungkin aku akan kembali..mungkin juga tidak…..