Kamis, 13 Agustus 2009

Sejengkal Jarak Perempuan (itu) Dengan Kemiskinan


Usia tua itu tidak seperti anggur. Karena tidak pada setiap bagian dapat timbul rasa asam sesuai dengan usianya…

Perempuan…

Menabur peluh disetiap bulir padinya

Memikul beban hidup disetiap langkahnya

Namun, adakah yang peduli ?


Perempuan…

Prioritas bukanlah sebuah pilihan bagi mereka

Justru stereotip “kaum terbelakanglah”

Yang melekat erat dalam diri mereka


Perempuan…

Bukan penghargaan yang mereka idamkan

Bukan pula pengakuan yang mereka inginkan

Hanya ada kebisuan dan kesabaran yang abadi


Perempuan…

Sudah renta melakoni semua ini

Tidakkah engkau lelah ?

Tidakkah engkau sesekali mengeluh pada nasib ?


Perempuan – perempuan itu adalah…

Mereka yang menuakan bulir-bulir kehidupan dengan peluhnya

Mereka yang memikul beban berat kehidupan dengan daya seadanya

Mereka yang senantiasa bersyukur diatas garisan takdirnya

Mereka yang telah renta termakan usia

Mereka yang begitu dekat dengan kesederhanaan dan kemiskinan


Perempuan …

Adakah yang peduli ??

Dengan cerita yang kau lakoni…

Dengan peluh yang seolah tak pernah mengering..


Lalu, bagaimana dengan aku ??

Mungkin, aku hanya bagian kecil dari perempuan..

Salut …

Dengan segala perjuangan melawan kekejaman zaman

Dengan ketabahan dan kepasrahannya pada penguasa kehidupan


Perempuan ….

Tetaplah semangat..

Percayalah, Tuhan punya rencana…


Sabtu, 01 Agustus 2009

aQ (benar-benar ) BerSyukUr....


Bukan apa-apa,..aku hanya (benar-benar) bersyukur. Terkadang kita tak pernah benar-benar tahu rencana Tuhan. ..dan sekarang..aku mengerti...sedikit (dari sekian banyak pertanyaan yang aku ajukan pada-NYA tentunya). Setelah menempuh UAP ulang I yang harus mengulang 1 stasi dan 3 stasi perbaikan ... akhirnya yudisium. Yah..hari ini tepat pukul 09.00 WIB pengumuman hasil ujian. Awalnya aku hanya berani berharap lulus saja...tapi ternyata Tuhan memberiku lebih dari sekedar lulus. Setelah yudisium selesai aku bergegas pulang ke rumah, selain tidak ada kegiatan di kampus, aku harus mempersiapkan buat sidang KTI ku. Lega rasanya....setidaknya, ayah bisa tersenyum kali ini. Sesampainya dirumah...hhmm...tak sabar melihat ibu tersenyum bangga. Bukan apa-apa..aku hanya (benar-benar) bersyukur. Untuk sekarang mungkin hanya ini yang bisa aku lakukan. Belajar bertanggung jawab dan melakukan yang terbaik untuk masa depanku. Ayah, mungkin aku tak bisa melihat sendiri semburat senyum kebahagiaannya..namun do'a dan semangat darimu selalu menyulutkan semangat baru ketika aku mulai lelah.Bukan apa-apa aku hanya (benar-benar) bersyukur ...