Sabtu, 04 April 2009

Ibu yang penuh kasih....

Hal-hal terbaik dalam hidup ini tak pernah dibatasi. Persahabatan, kesetiaan dan cinta. Tidak memerlukan kupon…


Sekitar 1,5 bulan lalu aku baru menjalani operasi. Syukurlah, kista ateru yang di diagnosakan dokter untukku tidak membahayakan.

Seingatku, sejak kelas 5 SD aku baru menyadari jika ada sesuatu yang lain di bagian bawah pipi kananku. Namun, jangankan merasakan sakit, berfikir bahwa aku sakitpun rasanya tak pernah sedikitpun. Rasanya akupun tak perlu membuat ini menjadi masalah besar, yang berakibat buruk.

Bertahun-tahun aku berharap akan baik-baik saja. Tetapi, ketika usiaku 19 tahun. Aku jadi sering merasakan sakit, dan aku masih berfikir “ ah.. bukan apa-apa”. Namun, ketika itu, ketika aku sadar bahwa benjolan itu semakin membesar, memerah dan sakit yang balakangan sering aku rasakan. Aku memberanikan diri mengadu pada ibuku. Yang aku tahu, tak ada seorang ibu pun yang bisa tenang ketika tahu anaknya sakit.

Awalnya ibu marah, karna tak seharusnya aku menyembunyikan rasa sakitku (dan ku pikir itu wajar, dia hanya tak ingin melihatku kenapa-kenapa). Aku tak ingin membuatnya semakin sedih. Apalagi ayahku sedang tidak dirumah. Dan hal menakutkan lainnya adalah ketika aku harus masuk ruang pratek dokter spesialis bedah, menjalani operasi (meskipun ringan sekalipun) dengan luka jahitan di wajahku dan menjalani serangkaian pengobatan pasca operasi, Fuih..aku tak pernah berfikir sedikitpun.

Secepatnya ibu meminta untuk memeriksakannya. Dan sore itu disela jadwal PKMD ku, aku menyempatan diri untuk pulang dan memeriksakan sakitku. Meskipun ibuku terlihat tenang, namun kali ini dia tidak bisa membohongiku. Dokter bilang “ ini sudah terlalu lama, sampai meradang seperti ini, harus segera diangkat ”. Aku diam, berfikir dan berdo’a pada Tuhan, semoga aku baik-baik saja. Tap ibuku, aku tahu dia ingin sekali menjatuhkan setetes kesedihan dimatanya, kali ini dia tak bisa menyembunyikan urat kesedihannya. Aku berusaha tegar, namun itu semua tak cukup membuatnya tenang. Bahkan untuk mengadu pada ayahku pun aku tak mau…

Sekarang, itu semua sudah kujalani. Luka bekas jahitan di bagian bawah pipiku pun mulai membaik. Ketakutan-ketakutan ku pun sudah tak kupikirkan lagi. Bekas itu masih ada, tapi mungkin hanya soal waktu,luka bekas jahitan akan hilang. Dan ibuku…aku bisa melihat senyuman itu lagi….

Tidak ada komentar: