Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di bumi selalu berubah. Em..apa penyebabnya yaah..? kebakaran hutan? meteor jatuh? Variasi panas matahari? perubahan angin dan struktur bumi? gunung meletus? atau komposisi udara yang berubah? or..another reason..???
Sebelum melangkah lebih jauh, so pasti uda tahu dunk what’s the meaning of global warming?. Secara kasar global warming adalah meningkatnya temperature rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Nah, apa penyebabnya?? salah satu penyebabnya adalah peningkatan efek rumah kaca. Pada dasarnya efek rumah kaca menyebabkan atmosfer bumi menjadi hangat dan hal inilah yang membuat makhluk hidup macam kita-kita ini dapat hidup. Tanpa efek rumah kaca bumi bakal dingin. Sayangnya efek rumah kaca mengalami peningkatan beberapa dekade belakangan ini. Yupz..itulah inti dari global warming !!!. Gas-gas yang ikut berkontribusi dalam kelestarian global warming antara lain CO2, CH4, NOx, SOx, SF6, H2O dan PFC.
Faktanya :
ü Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri.
ü Laut Artik, sejak taun 1980 es disana udah mencair 20-30 %.
ü Masih di Eropa nih.. Pegunungan Alpen juga mengalami defisit salju yang parah. Delapan dari sembulan gletser di bumi sudah kehilangan 1/3 dari wilayah es dalam kurun waktu seabad.
ü Afrika juga ga’ mau ketinggalan trend loh, gunung Kilimanjaro yang notabenenya gunung tertinggi di Afrika setiap bulannya meleleh > 300 m3. Dalam seabad mencapai 82%. Klo salju udah ga’ betah di gunung itu, namanya mesti di ubah dunk. Kilimanjaro kan artinya gunung putih atau gunung yang bercahaya. ( emm.....ada usul buat nama baru kilimanjaro?? hehehhe)
ü Amerika Selatan, salju di dataran tinggi seperti Argentina, Peru dan Chili juga ikut2an turun. Pegunungan Endes yang merupakan salah satu surga salju di dunia sejak tahun 1995 juga ga’ mau kalah. Di kawasan gletser pelelehan salju mencapai 30,1 meter/th dan 6 gletser di Venezuela ( negri penghasil Miss World tuhh) sekarang cuma tinggal 2 dan akan hilang sejak 10 tahun dari sekarang.
ü Konsekuensi dari melelehnya salju adalah meningkatnya permukaan air laut. Di negeri bola Brasil, garis pantai yang hilang menjadi lautan rata-rata berkisar 1,8 meter per tahun.
ü Asia juga sama tragisnya, pelelehan yang drastis sekaligus dramatis. Himalaya, gunung tertinggi di dunia yang menjadi kantong air beku, terus kehilangan saljunya secara konsisten. Gletser-gletser di Pegunungan Himalaya yang tersebar di negara-negara seperti India, Tibet, Bhutan, China, terdegradasi dengan amat cepat. Tujuh sungai besar di Asia yang bermata air dari Himalaya yakni Gangga, Indus, Brahmaputra, Mekong, Thanlwin, Yangtze, dan Sungai Kuning terancam eksistensinya yang berakibat pada ratusan juta umat manusia di kawasan sepanjang aliran sungai-sungai itu.
ü Giliran Indonesia neeh.. di Puncak Jaya, Papua, satu-satunya daerah pegunungan tinggi di Indonesia yang memiliki salju. Bila foto udara pada tahun 1972 memperlihatkan puncak gunung yang hampir seluruhnya diselimuti salju, sekarang puncak gunung itu hanyalah berisi bebatuan dan pepohonan belaka. Artinya, tidak ada lagi salju di sana...( OMG.....klo gitu Indonesia udah ga’ punya daerah bersalju lagi dunk...?)
Konsekuensi yang harus diterima...??
ü Penyebaran penyakit, terutama untuk kelangsungan hidup virus tropis.
ü Turunnya populasi dan fauna serta perpindahan fauna yang cepat, termasuk kelestarian terumbu karang juga terancam.
ü Kebakaran
ü Kesulitan air yang dialami oleh warga di lereng Gunung Merapi lima tahun terakhir ini misalnya adalah fakta baru yang menunjukkan betapa air makin sulit didapat.
ü Air Grojogan Sewu yang dulunya melimpah ruah, sekarang ga’ lebih dari pancuran (beberapa tahun kedepan mngkin tinggal tetesan doank). Anak cucu kita...maybe, mereka bakal bilang “mah.. ke monumen grojogan sewu yuuk?” (yup, alias tinggal bentuknya aja, grojogan sewu tinggal nama...)
ü Dari sisi iklim, hampir semua kota dan wilayah di Indonesia menjadi korbannya. Di Jawa bagian tengah misalnya, Kaliurang di Jogjakarta, Tawangmangu di Karanganyar, atau Bandungan di Semarang, sekarang bukan lagi didatangi wisatawan karena udaranya yang sejuk dan dingin, tetapi karena kelatahan dan cap yang terlanjut melekat sebagai daerah wisata. Itu saja. Dahulu, di daerah-daerah tersebut kabut dingin senantiasa turun setiap pagi sepanjang tahun. But now, hanya bisa dijumpai beberapa kali sepanjang tahun, itupun sangat tergantung dari musim.
ü Di Puncak Jaya, Papua, salju tidak lagi hinggap di puncaknya sejak beberapa tahun silam. Ini menandai era berakhirnya eksistensi satu-satunya kawasan bersalju di Indonesia.
Fuih.. kita harusnya lebih aware terhadap masalah ini. Pembakaran hutan di indonesia sangat berkontribusi terhadap global warming yang terjadi sekarang. Klo kaya’ gini, masyarakat juga mesti melek dengan perubahan yang terjadi. Pemerintah harus lebih giat lagi ngejaga hutan Indonesia. Q sih optimis bakal berhasil, asal pemerintah bisa mempertanggungjawabkan dan membuat suatu regulasi perlindungan lingkungan yang kuat (hehhe..klo itu biar jadi pemerintah). Now, tinggal gimana peran kita sebagai masyarakat. Demi kelestarian planet ini, peran kita sebagai masyarakat benar-benar dibutuhkan untuk mensukseskan kampanye global warming..SAVE OUR EARTH...!!!